Tuhan Tidak Butuh Kesuksesan Kita

Home / Opini / Tuhan Tidak Butuh Kesuksesan Kita
Tuhan Tidak Butuh Kesuksesan Kita ILUSTRASI. (Grafis: TIMES Indonesia)

TIMESPURWOREJO, BATU – Dua Tahun lalu,  klub Jurnalistik di SDN Punten 01 dibentuk untuk mencari bibit penulis. Adalah seorang anak bernama Khasya. Ia mendapat pembinaan apresiasi seni sejak kelas tiga oleh Cikgu Nur Agustina. Anaknya ekspresif, spesialis membawa cerita dongeng.

Kemudian ada anak kedua bernama Neza. Anak ini pendiam dan tipe pemikir. Saya menemukannya ketika mengajar Pendidikan Agama Islam di Kelas 4. Saat itu saya memberikan tugas menulis kembali kisah Pahlawan Islam. Neza menulisnya dengan bahasa yang sederhana namun penuh imajinasi. Saya pun membujuknya untuk ikut klub Jurnalistik. Tetapi, ia lebih memilih klub matematika. 

Saya tidak memaksakan atas pilihan Neza itu. "Baiklah Nak, sampean ikut Klub Matematika gak papa. Tapi sampean tetap menulis ya," pinta saya. Neza pun kemudian menyanggupi permintaan saya. Setiap dua hari sekali, ia setor tulisan karangan fiksi. Saat itu tulisannya lebih banyak dari anak-anak yang ikut klub Jurnalistik.

Singkat cerita, tulisan kedua anak ini menjadi bagian dalam buku Antologi  berjudul "Cerita-Cerita di Sekolah". Buku ini disusun oleh 21 siswa.

Saat itu keberhasilan anak-anak SDN Punten 1 membuat buku antologi Ber-ISBN cepat berhembus kencang. Itu karena ada media sosial. Covernya saja sudah viral. Khusus Neza, salah satu karangannya saya bukukan menjadi buku cerita bergambar berjudul Juara Kelas.

Saya berjanji kepada mereka saat itu, "Nanti kalau sudah menulis dan punya buku, kalian bisa menjadi narasumber."

"Apa itu Pak?" tanyanya mereka.

"Berbagi ilmu kepada teman-teman yang lain" jawab saya kala itu.

Sore ini, tanggal 9 November 2018 Neza duduk di podium bersama empat penulis cilik Kota Batu. Mereka berbagi tips kreatif menulis buku di hadapan 200 anak dan orang tua se-Kota Batu. Ketika berbicara di depan, Neza sempat agak grogi, namun akhirnya dia bisa bercerita dengan baik tentang pengalaman menulisnya. Bagi saya itu hal yang lumrah, saya saja ketika sampai dewasa pun masih kikuk berbicara di depan orang banyak.

Sebelumnya pada medio Februari 2018, Neza dan Khasya juga pernah diundang maju ke depan dalam rangkaian acara Safari Literasi Perpusnas RI. Saat itu, impian mereka adalah menyampaikan hasil karyanya ke Ibu Wali Kota.

Keinginan mereka pun terpenuhi, akhirnya mereka bisa berjabat tangan dengan Ibu Dewanti Rumpoko pada saat pembukaan acara Gebyar Literasi. Impian sederhana mereka tercapai ketika saat ini Khasya berada di kelas 5 dan Neza berada di kelas 6.

Dari pengalaman kedua anak ini banyak hikmah yang saya peroleh. Tentang sebuah impian sederhana dan ketekunan untuk mencapainya. Mengutip pernyataan Cak Nun, "Tuhan tidak menuntut kita untuk sukses. Tuhan hanya menyuruh kita berjuang tanpa henti". (*)

Catatan Ernaz Siswanto, Guru SDN Punten 01 Batu.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com